Saturday, July 11, 2009

Lima Pagi

Cahaya benderang.

Lampu demi lampu terlewati, semua berderet memberikan sekejap sinaran. Aku melalui semua dan mendadak merasa penuh inspirasi. Kepenuhan yang sulit dijelaskan alasannya.

Aku membayangkan kembali. Ke rutinitas sehari-hari. Ke bos cerewet yang hanya tahu meminta dihargai. Ke tugas yang tidak pernah berhenti. Ke hidup. Ke diri sendiri.

Untuk sejenak, menarik untuk menengok dunia yang penuh dengan sinar lampu, sorot kanan dan kiri. Menyaksikan upaya orang untuk tetap muda, melawan arus waktu dengan gaya dan penuh cita rasa. Bagaimana semua di sana mempertunjukkan keinginan untuk menjadi sesuatu yang ada: malam ini, bagiku, di sejarahku, aku tercatat untuk selamanya. Meski hanya mengeluarkan satu hentakan atau beberapa goyangan. Saat ini adalah milikku.

Aku kembali ke dalam taksi. Terduduk sendiri. Jalan tampak sangat lengang. Lampu demi lampu terus terlewati.

Benakku berpikir, bakal jadi apa aku kemudian. Lima, sepuluh, lima belas, dua puluh, dua puluh lima, aku tidak tahu berapa panjang yang diberikan Sang Maha Segala kepadaku. Akan mimpi apa yang kukejar, status apa yang kudapat, dan pencapaian apa yang kurasa?

Kalau hidup hanya untuk saat ini, aku yakin benar saat ini aku hidup. Untuk kemarin aku tidak pasti, apalagi untuk yang esok dan besok.

Taksiku berhenti. Dan aku turun. Berpikir.

Semua orang mencari kebahagiaannya sendiri. Entah hanya sejauh harga ongkos taksi atau menyerahkan seluruh diri. Cerita ini, lagi-lagi, di pukul lima pagi.

Untuk nanti kita berjumpa lagi, kali ini.

Aku permisi.

Sunday, June 28, 2009

Gombal!

“Sekarang aku tahu.”

“Tahu apa?”

Dia tersenyum sembari menyeruput kopi yang kubeli di kedai ini, segelas untuk berdua.

“Cerita itu. Bidadari yang jatuh ke bumi dan mandi. Rupanya mereka mengenakan pakaian berwarna merah muda.”

Dia tersenyum semakin lebar, semakin sempurna, lalu menaruh gelas itu sembari tersipu. Sembari bergerak turun tangannya melalui kaus simpel yang dikenakannya, tepat warnanya seperti yang kukatakan dalam kata: merah muda.

“Tidak pernah aku dalam satu pun mimpiku membayangkan akan menemui bidadari seperti engkau, sayang.”

“Gombal. Dari mana kau belajar berkata seperti itu, Pangeran?”

Ah. Ganti aku tersenyum. Kalau soal beradu kata, dia memang satu jagonya. Urusan merayu biar aku membelikannya sesuatu, dia bisa dibilang nomor satu. Bahkan Ibuku sendiri agak sulit mencairkanku. Duh. Agak durhaka memang. Maaf, Ibu.

“Jangan bengong!”

Aku tersadar dari lamunan.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Berjuta wanita lain yang ada di sana?”

“Tentu tidak mampu mereka memasuki pikiranku. Wanita mana lagi, yang meminum kopi, mendapatkan busa, dan tetap terlihat begitu sempurna?”

Dia tersenyum malu lalu perlahan menghapus bekas busa di mulutnya. Aku tertawa.

“Entah berapa lama kau bisa melakukannya, sayang.”

“Apa? Menatap kecantikanku?”

Dia tertawa.

“Bukan, bukan. Membuatku begitu terpana akan dirimu. Begitu umur menjadi senja, bukankah semua laki-laki berubah menjadi labu besar yang malas bergerak? Seperti di cerita dongeng, sihir habis, hilanglah semua itu, kenangan manis.”

Aku tertawa.

“Tidak usah khawatir, ada satu orang Putri yang selalu bisa menciumku jika aku jatuh tertidur, dan aku akan bangun lagi, siap untuk mengendarai kuda kehidupan bersamanya.”

“Kamu berbicara seperti semua itu mudah.”

“Memang semua itu mudah.”

“Kehidupan berdua dalam pernikahan itu selamanya, kau tahu?”

“Seperti sekejap mata.”

“Kita belum punya apa-apa.”

“Aku punya kamu.”

Dia terdiam sejenak. Musik bermain di latar belakang. Jazz.

“Aku serius, sayang. Ini langkah besar. Gombalmu...”

“Aku tidak gombal.”

“Aku...”

“Aku serius. Aku tidak gombal.”

“Bukan...”

“Siapa juga yang menciptakan kata gombal? Seseorang yang tidak pernah merasakan cinta, kurasa. Ketika jatuh cinta, seperti sekarang aku jatuh cinta padamu, aku butuh kata yang melebihi makna kata. Mengapa harus terbatas seperti orang kehabisan rasa?”

“Dan aku, sayang, tidak punya sedikit pun keraguan untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Menjadi nenek bersama si kakek yang merupakan dirimu. Tapi, semua di dunia ini tidak bisa diselesaikan begitu saja dengan cinta!”

“Jadi kau ragu akan cintaku?”

“Aku ragu akan kemampuan kita menghadapi semua tantangan itu.”

Bibirku membuka, lalu menutup kembali.

“Kau tidak mau menerima lamaranku?”

Dia menggeleng.

“Tidak untuk saat ini.”

“Baiklah.”

Aku berucap pahit, lalu menunduk. Dia beranjak dari tempat duduknya, pun tidak mengucapkan satu kata selamat tinggal.

Tunggu. Dia ketinggalan sesuatu.

“Hey!”

Ketika aku menengok, dia sudah lenyap. Aku penasaran sendiri membuka kotak kecil beludru itu. Sebuah cincin.

Dan sebuah kertas. Tertulis: “Aku melamarmu lagi, sayang. Waktu awal pacaran, sudah kukatakan bahwa nanti aku yang akan melamarmu, dan aku ingin membuktikannya. Dalam hidup, kepalaku sekeras ini, dan aku semenyebalkan ini. Masih kah kau mau menikah denganku?”

Dasar.

Aku berlari mengejarnya keluar. Kepalamu yang keras itu, sayang? Sifatmu yang suka berubah tiba-tiba dan menyebalkan itu, sayang? Hal yang membuatku jatuh cinta padamu, sayang? Semua ada pada dirimu, kurangnya dan lebihnya, tertempel, tidak bisa dipisah seperti makan soto di pinggir jalan.

Jadi. Kupikir.

Aku akan mengatakan iya. Karena cintaku padamu sebesar planet, dan pembuktian kataku ini tidak akan pernah berakhir. Aku, mencintaimu. Sangat, amat, mencintaimu.

Saturday, June 6, 2009

Inspiration

Ah. Hello. I'm sorry I haven't posted anything in a while.

Something's coming up soon!

Cheers
Kevin

Friday, April 10, 2009

In the other blog...

has just been uploaded a new short story, Hurt. comments are most awaited for! :) http://kkkint.blogspot.com/

Wednesday, February 18, 2009

Cerita

Ayahku suka ke tempat prostitusi.

“Di sana,” persis seperti katanya, “orang bisa bebas menjadi siapa saja.”

Kemarin malam dia kembali dari satu tempat baru. Dan dia sepanjang malam berceloteh dan mengeluh tentang tempat ini. Ayah yang satu lagi hanya bisa mengurut dada. Kalau dada yang rata dan bidang masih terhitung dada.

“Pelacurnya sialan,” masih persis seperti katanya, “dia terlalu banyak bicara.”

Dan aku terheran mendengar dia. Engkau seorang yang sudah bersuami dan mempunyai satu anak. Tidak heran kalau orang bicara. Apalagi tentang dirimu.

“Di sana yah, di sana, dia terus bicara.”

Aku membantu ayah yang satu lagi menarik ayah ke kamar. Kamar di mana mereka bercinta tapi tidak terjadi manusia. Aku diadopsi dan mempunyai dua ayah yang luar biasa.

“Aku tidak suka dia seperti ini,” kataku jujur.

Ayah yang satu lagi mengangguk. Tentu aku bisa mengerti perasaannya. Tua dan tidak lagi berguna membangkitkan gairah.

Aku berjalan keluar dari kamar. Selimut ditutupkan di atas badan dan pendingin kamar dinyalakan.

Kemudian ketika menulis di atas sebuah kertas aku melontarkan seluruh pikiranku.

Pikiranku kacau.

“Hey. Sedang menulis apa?” kata ayah yang satu lagi.

Aku rentan terhadap virus anti berbicara. Bicara itu bahaya. Menulis itu bersahaja.

“Tentang bicara.”

Dia mendekatiku. Lalu memelukku dari belakang dan menciumku.

“Jangan banyak bicara,” masih kata ayah yang satu lagi, “lebih baik kita bercinta.”

Bercinta seperti yang ayah yang satu lagi tengah lakukan ini seperti bicara. Masukkan sesuatu ke dalam. Sumpal dalam-dalam sampai menumpuk. Tidak heran ayah suka prostitusi. Dia juga sama saja. Pelacur tidak perlu banyak-banyak bicara. Tinggal kamu yang melakukan semua pembicaraan. Begitu puas dan meledak di dalam, kamu bisa pergi tanpa mengeluarkan satu kata. Cekoki saja. Kenapa harus dibagi dan diberitahu? Toh pelanggan itu raja.

Sukanya hanya satu, seperti ayahku, atau ayah yang satu lagi kepada diriku, sukanya hanya bicara saja. Mereka tidak berbicara dengan. Mereka bicara pada. Dan kalau yang dibicarakan pada tidak diberi kesempatan untuk berbicara, teruslah bicara itu semakin besar. Terlalu banyak kata yang keluar begitu saja. Tanpa disadari kata itu sudah terbang entah ke mana. Satu ke teman satu lainnya. Lainnya satu teman ke teman satu lainnya.

Dan jadilah ledakan tanpa sisa.

Kalau saja diberinya kesempatan bagi yang lain untuk berbicara. Kalau saja.

Mungkin tidak perlu kini aku bicara.

Tuesday, January 6, 2009

Tiga Permohonan Bodoh

Aku berlari dengan penuh gegas ke atas lantai tiga rumah tetanggaku. Setelah semua bunyi dentuman reda, tersisa satu hening yang tak terkira. Teriakan orang yang seperti kehabisan nyawa.

Dari atas, kulihat benar.

Palestina. Tanahku hancur. Gedungku hancur. Anakku berdarah. Saudaraku meninggal.

Air mataku mengalir.

Mengapa semua penderitaan ini, ya Allah? Tidak bisakah Kau gunakan tangan hebatmu untuk menghancurkan mereka, mereka yang telah datang dan merasa menang?

Perlahan dari jauh kudengar bunyi dengung yang sama sebelum ledakan datang, dan aku kembali bersembunyi ke bawah. Aku duduk meringkuk di pojok bersama kedua anakku saling berpelukan dan terus menangis. Istriku, dan Ibu mereka, masih belum juga kembali.

Ya Allah, hancurkanlah mereka dengan segala kekuatanmu. Matilah semua orang itu yang telah melakukan kejahatan di depan matamu.

Aku mohon.

.

Kurasakan tanah ini memanggilku, air di sini mendengarkankku, dan angin di sini menyatakan cintanya kepadaku.

Sudah entah berapa lama aku rindu pulang. Seakan semewah apapun tempat tinggal di mana aku berada, ada satu rasa yang kurang, satu hasrat yang belum terpenuhi.

Akhirnya aku kembali ke Israel. Ke tempat di mana aku harus berada.

Israel harus menjadi lengkap kembali. Pulih. Harus dihilangkan semua teroris sialan itu. Para pelaku tindakan anarkis yang telah mematikan banyak orang. Orang yang mematikan banyak orang layak untuk dimatikan.

Tanah yang milik kami, sudah saatnya kembali menjadi milik kami.

Ya Allah, hancurkanlah mereka dengan segala kekuatanmu. Matilah semua orang itu yang telah melakukan kejahatan di depan matamu.

Aku mohon.

.

“Klik.”

Aku mematikan televisi.

“Klik.”

Aku mematikan laptop.

“Klik.”

Aku mematikan telepon genggam.

Dan di sofa di tengah ruang keluarga aku terduduk. Pusing. Terlalu banyak ini itu sekarang. Israel yang menyerang. Palestina yang menyerang. Orang yang tidak simpatik pada Israel yang menyerang. Orang yang tidak simpatik pada Palestina yang senang.

Di berita, di internet, dan di telepon mulai muncul berbagai pesan. Ajakan untuk mengutuk satu tindakan. Ajakan untuk mengecam satu tindakan. Ajakan untuk membela dengan mengutuk dan mengecam.

Aku sejenak bisa membayangkan perasaan Allah mendengarkan doa-doa orang saat ini.

Hukum orang ini atas perbuatannya. Hukum orang itu atas perbuatannya. Hancurkan orang ini. Hancurkan orang itu. Semoga semua orang di dunia membenci orang ini. Semoga semua orang di dunia membenci orang itu.

Hancurkan saja semuanya, kalau begitu?

Akhirnya aku memutuskan untuk berlutut dan berdoa. Mengucapkan satu permohonan.

Ya Allah, hentikanlah semua segregasi ini. Tumbuhkanlah cinta di dalam hati setiap insan yang mulai dengki, kesabaran di dalam setiap jiwa yang mulai bergejolak, dan manusia di dalam diri setiap manusia. Semoga di sana ada kedamaian, maaf, dan toleransi.

Jadikanlah damai di sana, di Israel dan Palestina. Jadikanlah damai di dunia.

Aku mohon.


/satu yang benar hanya ada satu Tuhan/
K-08

Thursday, December 25, 2008

Memandangmu

Malam kudus
Sunyi senyap
Dunia gemerlap
Hanya dua berjaga terus


Wajahmu begitu tenang. Aku memandang Ibu dari tempat duduk, sedari tadi terdiam menghadap ke luar jendela. Di balik tirai dan penghalang cahaya terbesit air yang jatuh dari matanya.

Tanganmu kupegang erat. Mereka semua sudah menarikku untuk ikut merayakan malam Natal bersama, tapi aku ingin berada di sini bersamamu. Demikian juga Ibu. Aku rasa kami berdua sama-sama sadar bahwa tidak mungkin berdoa jika kami terus memikirkan keadaanmu.

Bangunlah, Nisa. Bangun.

Malam kudus
Sunyi senyap


Kalau orang lain di tempat lain sedang tertawa bersama di atas meja makan, aku bisa mengerti. Memang ini saat yang paling tepat. Suasana Natal seakan menginjeksi kehangatan di udara yang dingin. Atau kesejukan di udara yang panas. Semua jalan pertokoan menghias diri dengan warna. Semua orang sedang tertawa, atau, paling tidak, berusaha tertawa.

Aku memasukkan satu koin, dua koin, ke dalam mesin pembeli minuman.

Selamat Natal, aku berbisik lembut ke arah refleksi diri sendiri yang tampak samar di kaca tembus pandang yang terpasang di mesin, sembari perlahan mengangkat minuman yang sekarang kupegang.

Aku berjalan kembali.

“Ibu, istirahat dulu... Ini diminum...”

Ibu hanya menggeleng.

Lahir Sang Penebus

Sudah beberapa bulan kamu terus berbicara tentang penampilan. Dimulai dari ulang tahun temanmu, di mana kamu dihina karena tubuhmu yang masih kekanakan. Kamu menangis ketika bercerita bahwa kamu diolok karena tidak tinggi dan langsing. Karena gaya berpakaianmu tidak sesuai. Karena gaya bercandamu berbeda dengan mereka.

Dan kamu mulai sering berteriak ke arah kami. Kami salah mendidikmu. Salah memberimu makan banyak. Salah karena kamu merasa kami terlalu banyak menyita waktumu dari dunia.

Lahir Sang Penebus

Entah sudah berapa bulan kamu berhenti makan. Pertama makan malam. Lalu mulai berhenti makan siang. Kalau kami mengingatkan, kamu akan marah. Mengatakan bahwa kami telah membuat kulitmu rusak. Kami telah membuatmu terpojok. Kami telah membuatmu tidak bahagia karena mencintaimu.

Dan tiba-tiba hari ini engkau terjatuh lemas tak sadarkan diri.

Malam kudus

“Tut... Tut...”

Ibu dan aku serentak bergerak cepat. Gerakan jantungmu di monitor bergerak cepat. Kami sama-sama berlari ke koridor dan berteriak.

“Suster! Dokter!”

Sunyi senyap

Aku terduduk diam di sampingmu. Memandang wajahmu. Mengingat dirimu ketika kamu masih kecil dan lucu. Sebelum dunia menganggumu dengan berbagai pikiran itu.

Aku, kami, mungkin ketinggalan jaman, adikku. Tapi aku menyayangimu. Apakah itu tidak cukup? Ibu menyayangimu. Apakah itu tidak cukup? Seluruh keluargamu menyayangimu. Apakah itu tidak cukup?

Tanganku mengatup. Mataku tertutup.

Kurasa memang tidak cukup.

Dan aku mohon maaf karenanya. Karena aku tidak tahu bagaimana lagi cara mencintaimu.

Anak tidur tenang

Air mataku terjatuh. Ibu tidak mampu lagi berbicara. Kami berdua hanya bisa terjaga di ruangan itu, dilindungi oleh tirai yang menggantung bisu. Di ruangan tanpa gerakmu, tanpa suara detak hatimu.

Aku membayangkan saat ini kamu masih tersenyum, tertawa bersama kami semua setelah perayaan malam Natal. Meniup lilin ulang tahunmu yang ketujuh belas. Membiarkan aku memandangmu sembari mengatakan bahwa aku mencintaimu apa adanya, tanpa ada satu kecuali.

Selamat Natal, adikku. Semoga engkau bahagia di atas sana. Kuharap malam ini, kami bisa belajar lebih mengerti. Mereka bisa belajar lebih mengerti. Supaya tidak ada lagi dirimu yang lain.

Selamat Natal, adikku.

Anak tidur tenang

Anak tidur tenang




/Belajar mengerti / Belajar bersyukur / Belajar mencintai/
/Selamat Natal semua/