Claire
Salam sayang yang terhangat untuk istriku Claire.
Sayang, apa kabarmu? Tidak terasa sudah tiga bulan aku berada di sini, ditugaskan jauh darimu dan dua anak kembarku yang lucu. Ah, kurasa aku membohongi diri. Tentu saja tiga bulan ini sangat amat terasa. Terlalu, malah, kalau aku boleh jujur dan membagikan perasaanku padamu. Aku sangat amat merindukan dirimu.
Aduh. Si James barusan menggangguku lagi. Dia dan beberapa temanku yang lain mulai menyanyikan lagu-lagu aneh untuk menggodaku. Digilai cinta, kata mereka, diriku ini. Dan kurasa mereka memang benar. Ah, iya, ada satu orang di sini yang ternyata berasal dari kota yang sama denganmu. Christian, namanya, kalau kamu ingat. Dia bilang dulu dia tinggal hanya beda dua rumah dari rumahmu, dan sewaktu kecil dia sering senyum-senyum sendiri kalau melihat kamu melewati rumahnya. Kamu bidadari anggun, katanya. Aku si laki-laki nista yang beruntung, katanya. Kurasa tu ada benarnya.
Beberapa hari terakhir ini, aku belajar meludah jauh, terutama setelah kemarin diejek oleh komandan karena tidak bisa melakukan “hal simpel yang seharusnya bisa dilakukan semua laki-laki”. Ah. Andai kamu ada di sini, kamu bisa mendengar bagaimana aku tertawa barusan. Aku tertawa keras sekali. Aku membayangkan kamu ada di sini dan kegelian melihat aku melakukan hal sejorok itu.
Maafkanlah aku karena jarak dan waktu di antara kita ini membuat penderitaan yang begitu besar. Tidak ada yang membantu kamu menjaga si kembar di waktu malam hari, dan pemasukan yang aku bisa dapatkan untukmu sementara ini sangat kecil. Sabar, adalah satu yang kuminta darimu.Aku sendiri berusaha menghibur diriku dengan apa yang ada di sini. Mencari-cari alasan untuk tetap tertawa, untuk tetap bahagia. Di bayangku, setiap kali kita dikirim untuk bertempur melawan musuh, adalah keinginanku tetap hidup untuk bisa bertemu dirimu. Dan kamu jangan khawatir. Aku berjanji aku akan pulang. Hatiku yang tulus, adalah satu yang kuberi untukmu.
Ah, lagi-lagi waktu menulis sudah habis. Sekarang aku harus kembali lagi, ke latihan fisik ini dan itu. Oh, iya, paling tidak, nanti begitu aku pulang, kamu bisa memegang otot tanganku yang kuat. Aku bukan laki-laki yang lemah seperti dulu lagi. Perang ini memaksaku menjadi kuat. Sudah tidak secengeng dulu, mungkin tidak bisa lagi seromantis dulu. Tapi, aku, tetap aku yang sayang padamu.
Berjuta cinta untukmu,
LeRoy
Aku berdiri, menghapus air mataku, dan mulai berjalan perlahan ke arah ruang tengah, di mana hidangan sudah siap. Pukul dua belas siang. Aku memanggil kedua anakku turun ke bawah.
Bangku kayu ini selalu berderit kecil setiap kali digeser. Alasnya sudah tidak semulus dulu lagi, kurasa, dan aku tidak bisa menyalahkan karena umur memang mengikis segalanya.
“Ibu.”
“Ibu.”
Bergantian mereka mencium tanganku dan keningku. Seharian ini mereka di atas saja, bermain entah apa yang mereka mainkan. Tapi di dalam tahun-tahun ini, dengan ajaibnya mereka tidak pernah menjadi sumber masalah atau kenakalan. Seperti mengerti Ibunya, seperti patuh pada Ayahnya. Mereka hanya menjaga jarak. Takut, kurasa, mengalami rasa pedih dan sakit yang tidak pernah diinginkan oleh siapapun juga.
“Mari kita berdoa,”
Aku berucap perlahan.
“Terima kasih Tuhan untuk makanan yang kami terima ini, berikanlah ridho kepada mereka yang belum berkecukupan. Dan terimalah Ayah kami, Suamiku,”
Dan aku berhenti sejenak.
“LeRoy Arthur di sisiMu yang Maha Tinggi.”
Sunyi menyerang sisi-sisi hati kami bertiga begitu titik ditembakkan. Kami memutuskan bahwa kami akan selalu mendoakan LeRoy dalam setiap kesempatan. Tapi dalam semua kesempatan itu, meski sekarang sudah berlalu tahun demi tahun, rasa sakit itu tetap menusuk. Begitu dalam.
Kami makan seperti biasa. Berbicara ini itu tentang kehidupan dan tertawa kecil dalam beberapa kesempatan. Setelah makan selesai mereka berdua membantuku membereskan meja dan mencuci piring. Aku kembali ke kamarku, kembali terduduk di atas ranjang.
Tanganku meremas seprai yang membalut ranjang ini.
Hari ini tanggal yang sama dengan tanggal surat ini ditulis.
19 November 2006.
Omar
19 November 2006. Hujan itu punya kemampuan menghantui di kota Baghdad. Di tengah berisik gemercik air semua orang merasa takut. Tidak ada yang tahu kapan ledakan berikutnya akan terdengar. Kapan bunyi rubuh runtuh akan dimulai.
Omar mengepalkan tangannya, di ujung satu gang gelap di distrik Kadhimiya, utara Baghdad.
“Tidak ada jalan lain bagimu, Omar.”
Pria itu berbicara perlahan. Omar masih terdiam. Air mengalir jatuh melalui wajahnya yang pucat.
“Kalau kau mau membalaskan dendam Kakakmu dan membawa kejayaan bagi negara dan Allah kita, ini satu-satunya cara bagimu.”
“Apa?”
“Semua sudah disiapkan. Ayo pergi bersamaku. Kesucian harus dibawa kembali ke tanah ini.”
“Masjid Imam al-Kadhim?”
“Iya. Pembangunan tembok najis mereka itu harus dihentikan. Mereka tidak boleh dibiarkan menghalangi keagungan Allah!”
“Aku tidak tahu, Imran. Apakah ini cara yang benar?”
“Apakah kau sedih atas kematian Kakakmu?”
“Ya.”
“Apakah kau tidak benci mereka yang telah menyebabkan kematian Kakakmu?”
Omar terdiam.
“Jawab, Omar!!!”
“Aku tidak tahu. Mereka... hanya menuruti perintah. Mereka... juga punya... keluarga... seperti diriku.”
“Dengar. Dengar aku baik-baik.”
Imran berhenti sesaat.
“Kau ingat tatapan prajurit yang menembak Kakakmu? Apa itu yang namanya manusia? Mengingat biru di matanya membuat hatiku pilu! Kekejaman itu! Kakakmu diinjak! Diinjak-injak!”
“DIAM!”
Omar mendorong Imran, terengah.
“Diam! Diam! Aku tahu bagaimana Kakakku meninggal!”
Nafas. Terengah.
“Aku benci mereka!”
Terengah.
“Tapi Allah yang punya kekuasaan menghakimi, bukan kita!”
Imran mendengus, balik mendorong Omar.
“Kalau begitu biarkan aku sendiri yang melakukannya. Biarkan semua kejayaan ini menjadi milikku seorang!”
Sore itu juga Imran menaruh satu set peledak di tubuhnya. Dia berjalan perlahan ke arah tenda tentara para kafir. Dia mulai memanjat pagar besi yang berduri. Darah menetes. Tapi dia tidak merasakan sakitnya. Saat ini juga kalian akan mati menderita. Saat ini juga kalian akan mati menderita.
LeRoy keluar dari tenda, sendirian, tertinggal teman-temannya karena menulis surat terlalu lama. Ada seseorang yang mendekat.
“Hey! Siapa di situ?”
“Hah!”
Imran terkejut dan mulai berlari.
Dia menekan tombol yang ada di tubuhnya dan berlari secepat mungkin ke arah Masjid, di mana tembok najis itu berdiri.
“Hey! Berhenti!”
Sekumpulan prajurit mendengar LeRoy dan mulai berlarian mengejar Imran. Tapi dia berlari sangat cepat. Sangat cepat. Setiap kakinya menapak, jejak darah tertinggal.
Dia berteriak keras memuliakan apa yang menurutnya dia muliakan dan menabrakkan diri ke tembok. Tidak ada prajurit yang cukup dekat.
Kecuali satu.
Annisa
“... kecuali satu. Jatuh satu korban jiwa dalam episode tragis ini. LeRoy Arthur, 23 tahun, prajurit dari Amerika Serikat meninggal dunia ketika berusaha menghentikan aksi bom bunuh diri tersebut. Beberapa prajurit lain yang menderita luka ringan diobati langsung di tempat. Saat ini situasi di kamp masih kalut dan kacau. Para aparat lokal sudah diturunkan untuk turut membantu proses pembersihan dan perbaikan. Melaporkan langsung dari Baghdad, saya Annisa, undur diri.”
Annisa menghapus riasan wajahnya dan naik ke atas helikopter untuk pergi ke tempat liputan berikutnya. Baling-baling terdengar tajam membelah udara. Di wajahnya, sekarang, polos tanpa tutupan apa, mengalir air mata.
Biasanya aku tidak peduli terhadap mereka, pikirnya.
Berita apapun yang aku siarkan. Aku tidak pernah merasa seperti ini.
LeRoy...
Baru beberapa jam yang lalu, seorang wanita mengendap-ngendap keluar dari tenda para prajurit. Dia adalah Annisa.
Baru beberapa saat sebelum beberapa jam yang lalu, seorang wanita tengah berada di pelukan seorang pria. Dia adalah Annisa. Dia adalah LeRoy.
“LeRoy...”
“Iya, Annisa?”
“Aku... mencintaimu.”
LeRoy menghela nafas.
“Aku mencintaimu... juga.”
Annisa mengelus dada LeRoy.
“Aku harus pergi sekarang. Sebentar lagi mereka akan mencariku.”
LeRoy mengangguk.
“Aku juga harus melakukan sesuatu sekarang.”
Annisa masih bisa mencium baunya. Merasakan hembusan nafasnya. Kulitnya menyentuh kulitnya. Kehangatan dan cinta yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dari seorang prajurit asing yang ditemuinya tidak lebih dari tiga bulan yang lalu.
“Permisi, bisa saya wawancara tentang kedatangannya di sini?”
LeRoy berjalan berlalu begitu saja melewati Annisa.
Annisa mengejar dengan langkah kecil.
“Tolonglah. Bantulah saya. Sudah entah berapa yang menolak atau berlalu begitu saja. Apakah Bahasa Inggris saya kurang bagus? Apakah ini karena saya bukan orang Amerika juga? Setahu saya kalian percaya pada kebebasan dan penghargaan satu orang terhadap yang lainnya.”
LeRoy berhenti, tepat sebelum memasuki gerbang kamp.
“Iya?”
“Saya Annisa, dan saya mau mewawancarai anda tentang kedatangan anda dan pasukan Amerika di sini.”
“Saya LeRoy, dan saya hanya prajurit baru yang tidak mengerti apa-apa.”
“Seperti itu justru lebih baik. Pasti saat ini anda merasa sangat takut. Lebih menarik untuk dijadikan satu berita.”
LeRoy tersenyum.
“Ada benarnya. Baiklah. Pastikan saya terlihat tampan di kamera.”
Helikopter itu terbang melalui satu kota yang penuh dengan perang. Terdengar tangisan, bunyi mengais, dan dentangan adu kaleng-kaleng kosong, yang tidak berisi makanan. Kekotoran dan darah. Aroma kematian.
Annisa terus menangis. Pertemuan pertamanya dengan prajurit muda yang menawan itu berkembang menjadi percakapan harian dan bertransformasi menjadi kedekatan yang hangat. Sekarang semuanya berakhir. Seharusnya dia sudah siap. Dia tahu bahwa LeRoy sudah menikah. Dia tahu bahwa tidak mungkin menyatukan mereka berdua yang berbeda asal, tentang, usul, dan negara. Dia tahu bahwa semuanya akan berakhir. Tapi tidak seperti ini.
Di satu sudut yang malam ini tenang, terbaring dua insan yang tengah telanjang.
“Apa artinya perang?”
“Aku tidak tahu, Annisa.”
“Kalau begitu mengapa kamu melakukannya?”
“Negaraku. Negaraku membutuhkanku.”
“Kalau saja kita bisa bersatu.”
LeRoy tertawa kecil.
“Tidak mungkin Annisa. Aku sudah beristri.”
“Di sini diperbolehkan mempunyai istri banyak.”
LeRoy terdiam.
“Aku juga tidak mengerti mengapa kamu melakukannya.”
“Apa?”
“Memberikan dirimu seperti ini. Kamu tahu aku... menggunakanmu.”
“Aku tidak merasa digunakan. Mereka yang disiksa oleh suaminya, itu baru digunakan. Mereka yang dilarang bekerja oleh suaminya, itu baru digunakan.”
Annisa terdiam, mengecup LeRoy.
“Sementara kamu? Kamu memberiku kehangatan.”
Helikopter itu masih terbang. Annisa meremas dadanya. Sakit. Sakit sekali. Setelah akhirnya dia menemukan satu titik harapan di tengah kegelapan. Satu jiwa yang masih hangat di tanah yang sudah kering. Dia tidak merasa salah. Tidak salah. Jatuh cinta itu tidak salah. Laju hati itu tidak bisa dihentikan. Dia ingin berteriak protes. Tidak adil. Tidak adil! Meskipun ini bukan cinta yang bisa dibenarkan, tapi hanya pada satu cinta ini lah dia menemukan pegangan.
Mengapa...
Mengapa.
“Hey, kau baik-baik saja?”
Suara seorang lain di helikopter itu menyadarkan Annisa. Seorang prajurit dari Amerika. Dia segera menghapus air matanya.
“Ah. Iya. Tidak mengapa.”
“Kau menangis hebat barusan.”
Mukanya memerah.
“Ah. Maaf. Aku tidak sadar.”
“Tidak mengapa, aku bisa mengerti. Aku Christian. Turut berduka cita untukmu.”
Prajurit itu melepaskan topinya untuk melambangkan rasa hormat. Annisa hanya mengangguk.
“Dan kurasa pasti ada banyak juga penerima surat ini yang akan menangis sepertimu.”
“Surat?”
“Iya, dari para prajurit itu untuk keluarga mereka di rumah. Aku tidak bisa membayangkan perasaan keluarga sang prajurit yang meninggal itu, salah satu teman di kelompokku...”
Annisa bergidik.
“LeRoy..?”
“Iya. Kau kenal dia?”
“Aku pernah mewawancarainya.”
“Ohh... Iya, kasihan sekali dia, pasti keluarganya akan sangat terpukul. Dia baru menikah belum lama ini.”
“Ah. Perang memang sangat kejam.”
Tiba-tiba hati Annisa membeku. Seakan tertancap terlalu banyak sakit. Seakan tidak bisa merasakan apa-apa.
“Aku tidak bisa melihat satu pun keuntungan yang bisa didapat dari perang.”
“Demikian juga denganku.”
Annisa terdiam, mematung ke arah tumpukan surat di hadapannya. Di antara tumpukan itu, ada timbunan emosi yang begitu besar. Emosi yang tidak pernah diucapkan, yang tidak pernah diketahui. Semua amplop tertutup rapat.
Kecuali satu.
Di situ tertulis.
19 November 2006.
Dan dari balik kertas yang belum masuk sepenuhnya, kita bisa melihat bahwa.
Salam sayang yang terhangat untuk istriku Claire.
Hanyalah kalimat pembuka surat seorang prajurit untuk istrinya.