Friday, November 27, 2009

Surat Seorang Prajurit Untuk Istrinya

Claire

Salam sayang yang terhangat untuk istriku Claire.

Sayang, apa kabarmu? Tidak terasa sudah tiga bulan aku berada di sini, ditugaskan jauh darimu dan dua anak kembarku yang lucu. Ah, kurasa aku membohongi diri. Tentu saja tiga bulan ini sangat amat terasa. Terlalu, malah, kalau aku boleh jujur dan membagikan perasaanku padamu. Aku sangat amat merindukan dirimu.

Aduh. Si James barusan menggangguku lagi. Dia dan beberapa temanku yang lain mulai menyanyikan lagu-lagu aneh untuk menggodaku. Digilai cinta, kata mereka, diriku ini. Dan kurasa mereka memang benar. Ah, iya, ada satu orang di sini yang ternyata berasal dari kota yang sama denganmu. Christian, namanya, kalau kamu ingat. Dia bilang dulu dia tinggal hanya beda dua rumah dari rumahmu, dan sewaktu kecil dia sering senyum-senyum sendiri kalau melihat kamu melewati rumahnya. Kamu bidadari anggun, katanya. Aku si laki-laki nista yang beruntung, katanya. Kurasa tu ada benarnya.

Beberapa hari terakhir ini, aku belajar meludah jauh, terutama setelah kemarin diejek oleh komandan karena tidak bisa melakukan “hal simpel yang seharusnya bisa dilakukan semua laki-laki”. Ah. Andai kamu ada di sini, kamu bisa mendengar bagaimana aku tertawa barusan. Aku tertawa keras sekali. Aku membayangkan kamu ada di sini dan kegelian melihat aku melakukan hal sejorok itu.

Maafkanlah aku karena jarak dan waktu di antara kita ini membuat penderitaan yang begitu besar. Tidak ada yang membantu kamu menjaga si kembar di waktu malam hari, dan pemasukan yang aku bisa dapatkan untukmu sementara ini sangat kecil. Sabar, adalah satu yang kuminta darimu.Aku sendiri berusaha menghibur diriku dengan apa yang ada di sini. Mencari-cari alasan untuk tetap tertawa, untuk tetap bahagia. Di bayangku, setiap kali kita dikirim untuk bertempur melawan musuh, adalah keinginanku tetap hidup untuk bisa bertemu dirimu. Dan kamu jangan khawatir. Aku berjanji aku akan pulang. Hatiku yang tulus, adalah satu yang kuberi untukmu.

Ah, lagi-lagi waktu menulis sudah habis. Sekarang aku harus kembali lagi, ke latihan fisik ini dan itu. Oh, iya, paling tidak, nanti begitu aku pulang, kamu bisa memegang otot tanganku yang kuat. Aku bukan laki-laki yang lemah seperti dulu lagi. Perang ini memaksaku menjadi kuat. Sudah tidak secengeng dulu, mungkin tidak bisa lagi seromantis dulu. Tapi, aku, tetap aku yang sayang padamu.

Berjuta cinta untukmu,

LeRoy

Aku berdiri, menghapus air mataku, dan mulai berjalan perlahan ke arah ruang tengah, di mana hidangan sudah siap. Pukul dua belas siang. Aku memanggil kedua anakku turun ke bawah.

Bangku kayu ini selalu berderit kecil setiap kali digeser. Alasnya sudah tidak semulus dulu lagi, kurasa, dan aku tidak bisa menyalahkan karena umur memang mengikis segalanya.

“Ibu.”

“Ibu.”

Bergantian mereka mencium tanganku dan keningku. Seharian ini mereka di atas saja, bermain entah apa yang mereka mainkan. Tapi di dalam tahun-tahun ini, dengan ajaibnya mereka tidak pernah menjadi sumber masalah atau kenakalan. Seperti mengerti Ibunya, seperti patuh pada Ayahnya. Mereka hanya menjaga jarak. Takut, kurasa, mengalami rasa pedih dan sakit yang tidak pernah diinginkan oleh siapapun juga.

“Mari kita berdoa,”

Aku berucap perlahan.

“Terima kasih Tuhan untuk makanan yang kami terima ini, berikanlah ridho kepada mereka yang belum berkecukupan. Dan terimalah Ayah kami, Suamiku,”

Dan aku berhenti sejenak.

“LeRoy Arthur di sisiMu yang Maha Tinggi.”

Sunyi menyerang sisi-sisi hati kami bertiga begitu titik ditembakkan. Kami memutuskan bahwa kami akan selalu mendoakan LeRoy dalam setiap kesempatan. Tapi dalam semua kesempatan itu, meski sekarang sudah berlalu tahun demi tahun, rasa sakit itu tetap menusuk. Begitu dalam.

Kami makan seperti biasa. Berbicara ini itu tentang kehidupan dan tertawa kecil dalam beberapa kesempatan. Setelah makan selesai mereka berdua membantuku membereskan meja dan mencuci piring. Aku kembali ke kamarku, kembali terduduk di atas ranjang.

Tanganku meremas seprai yang membalut ranjang ini.

Hari ini tanggal yang sama dengan tanggal surat ini ditulis.

19 November 2006.

Omar

19 November 2006. Hujan itu punya kemampuan menghantui di kota Baghdad. Di tengah berisik gemercik air semua orang merasa takut. Tidak ada yang tahu kapan ledakan berikutnya akan terdengar. Kapan bunyi rubuh runtuh akan dimulai.

Omar mengepalkan tangannya, di ujung satu gang gelap di distrik Kadhimiya, utara Baghdad.

“Tidak ada jalan lain bagimu, Omar.”

Pria itu berbicara perlahan. Omar masih terdiam. Air mengalir jatuh melalui wajahnya yang pucat.

“Kalau kau mau membalaskan dendam Kakakmu dan membawa kejayaan bagi negara dan Allah kita, ini satu-satunya cara bagimu.”

“Apa?”

“Semua sudah disiapkan. Ayo pergi bersamaku. Kesucian harus dibawa kembali ke tanah ini.”

“Masjid Imam al-Kadhim?”

“Iya. Pembangunan tembok najis mereka itu harus dihentikan. Mereka tidak boleh dibiarkan menghalangi keagungan Allah!”

“Aku tidak tahu, Imran. Apakah ini cara yang benar?”

“Apakah kau sedih atas kematian Kakakmu?”

“Ya.”

“Apakah kau tidak benci mereka yang telah menyebabkan kematian Kakakmu?”

Omar terdiam.

“Jawab, Omar!!!”

“Aku tidak tahu. Mereka... hanya menuruti perintah. Mereka... juga punya... keluarga... seperti diriku.”

“Dengar. Dengar aku baik-baik.”

Imran berhenti sesaat.

“Kau ingat tatapan prajurit yang menembak Kakakmu? Apa itu yang namanya manusia? Mengingat biru di matanya membuat hatiku pilu! Kekejaman itu! Kakakmu diinjak! Diinjak-injak!”

“DIAM!”

Omar mendorong Imran, terengah.

“Diam! Diam! Aku tahu bagaimana Kakakku meninggal!”

Nafas. Terengah.

“Aku benci mereka!”

Terengah.

“Tapi Allah yang punya kekuasaan menghakimi, bukan kita!”

Imran mendengus, balik mendorong Omar.

“Kalau begitu biarkan aku sendiri yang melakukannya. Biarkan semua kejayaan ini menjadi milikku seorang!”

Sore itu juga Imran menaruh satu set peledak di tubuhnya. Dia berjalan perlahan ke arah tenda tentara para kafir. Dia mulai memanjat pagar besi yang berduri. Darah menetes. Tapi dia tidak merasakan sakitnya. Saat ini juga kalian akan mati menderita. Saat ini juga kalian akan mati menderita.

LeRoy keluar dari tenda, sendirian, tertinggal teman-temannya karena menulis surat terlalu lama. Ada seseorang yang mendekat.

“Hey! Siapa di situ?”

“Hah!”

Imran terkejut dan mulai berlari.

Dia menekan tombol yang ada di tubuhnya dan berlari secepat mungkin ke arah Masjid, di mana tembok najis itu berdiri.

“Hey! Berhenti!”

Sekumpulan prajurit mendengar LeRoy dan mulai berlarian mengejar Imran. Tapi dia berlari sangat cepat. Sangat cepat. Setiap kakinya menapak, jejak darah tertinggal.

Dia berteriak keras memuliakan apa yang menurutnya dia muliakan dan menabrakkan diri ke tembok. Tidak ada prajurit yang cukup dekat.

Kecuali satu.

Annisa

“... kecuali satu. Jatuh satu korban jiwa dalam episode tragis ini. LeRoy Arthur, 23 tahun, prajurit dari Amerika Serikat meninggal dunia ketika berusaha menghentikan aksi bom bunuh diri tersebut. Beberapa prajurit lain yang menderita luka ringan diobati langsung di tempat. Saat ini situasi di kamp masih kalut dan kacau. Para aparat lokal sudah diturunkan untuk turut membantu proses pembersihan dan perbaikan. Melaporkan langsung dari Baghdad, saya Annisa, undur diri.”

Annisa menghapus riasan wajahnya dan naik ke atas helikopter untuk pergi ke tempat liputan berikutnya. Baling-baling terdengar tajam membelah udara. Di wajahnya, sekarang, polos tanpa tutupan apa, mengalir air mata.

Biasanya aku tidak peduli terhadap mereka, pikirnya.

Berita apapun yang aku siarkan. Aku tidak pernah merasa seperti ini.

LeRoy...

Baru beberapa jam yang lalu, seorang wanita mengendap-ngendap keluar dari tenda para prajurit. Dia adalah Annisa.

Baru beberapa saat sebelum beberapa jam yang lalu, seorang wanita tengah berada di pelukan seorang pria. Dia adalah Annisa. Dia adalah LeRoy.

“LeRoy...”

“Iya, Annisa?”

“Aku... mencintaimu.”

LeRoy menghela nafas.

“Aku mencintaimu... juga.”

Annisa mengelus dada LeRoy.

“Aku harus pergi sekarang. Sebentar lagi mereka akan mencariku.”

LeRoy mengangguk.

“Aku juga harus melakukan sesuatu sekarang.”

Annisa masih bisa mencium baunya. Merasakan hembusan nafasnya. Kulitnya menyentuh kulitnya. Kehangatan dan cinta yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dari seorang prajurit asing yang ditemuinya tidak lebih dari tiga bulan yang lalu.

“Permisi, bisa saya wawancara tentang kedatangannya di sini?”

LeRoy berjalan berlalu begitu saja melewati Annisa.

Annisa mengejar dengan langkah kecil.

“Tolonglah. Bantulah saya. Sudah entah berapa yang menolak atau berlalu begitu saja. Apakah Bahasa Inggris saya kurang bagus? Apakah ini karena saya bukan orang Amerika juga? Setahu saya kalian percaya pada kebebasan dan penghargaan satu orang terhadap yang lainnya.”

LeRoy berhenti, tepat sebelum memasuki gerbang kamp.

“Iya?”

“Saya Annisa, dan saya mau mewawancarai anda tentang kedatangan anda dan pasukan Amerika di sini.”

“Saya LeRoy, dan saya hanya prajurit baru yang tidak mengerti apa-apa.”

“Seperti itu justru lebih baik. Pasti saat ini anda merasa sangat takut. Lebih menarik untuk dijadikan satu berita.”

LeRoy tersenyum.

“Ada benarnya. Baiklah. Pastikan saya terlihat tampan di kamera.”

Helikopter itu terbang melalui satu kota yang penuh dengan perang. Terdengar tangisan, bunyi mengais, dan dentangan adu kaleng-kaleng kosong, yang tidak berisi makanan. Kekotoran dan darah. Aroma kematian.

Annisa terus menangis. Pertemuan pertamanya dengan prajurit muda yang menawan itu berkembang menjadi percakapan harian dan bertransformasi menjadi kedekatan yang hangat. Sekarang semuanya berakhir. Seharusnya dia sudah siap. Dia tahu bahwa LeRoy sudah menikah. Dia tahu bahwa tidak mungkin menyatukan mereka berdua yang berbeda asal, tentang, usul, dan negara. Dia tahu bahwa semuanya akan berakhir. Tapi tidak seperti ini.

Di satu sudut yang malam ini tenang, terbaring dua insan yang tengah telanjang.

“Apa artinya perang?”

“Aku tidak tahu, Annisa.”

“Kalau begitu mengapa kamu melakukannya?”

“Negaraku. Negaraku membutuhkanku.”

“Kalau saja kita bisa bersatu.”

LeRoy tertawa kecil.

“Tidak mungkin Annisa. Aku sudah beristri.”

“Di sini diperbolehkan mempunyai istri banyak.”

LeRoy terdiam.

“Aku juga tidak mengerti mengapa kamu melakukannya.”

“Apa?”

“Memberikan dirimu seperti ini. Kamu tahu aku... menggunakanmu.”

“Aku tidak merasa digunakan. Mereka yang disiksa oleh suaminya, itu baru digunakan. Mereka yang dilarang bekerja oleh suaminya, itu baru digunakan.”

Annisa terdiam, mengecup LeRoy.

“Sementara kamu? Kamu memberiku kehangatan.”

Helikopter itu masih terbang. Annisa meremas dadanya. Sakit. Sakit sekali. Setelah akhirnya dia menemukan satu titik harapan di tengah kegelapan. Satu jiwa yang masih hangat di tanah yang sudah kering. Dia tidak merasa salah. Tidak salah. Jatuh cinta itu tidak salah. Laju hati itu tidak bisa dihentikan. Dia ingin berteriak protes. Tidak adil. Tidak adil! Meskipun ini bukan cinta yang bisa dibenarkan, tapi hanya pada satu cinta ini lah dia menemukan pegangan.

Mengapa...

Mengapa.

“Hey, kau baik-baik saja?”

Suara seorang lain di helikopter itu menyadarkan Annisa. Seorang prajurit dari Amerika. Dia segera menghapus air matanya.

“Ah. Iya. Tidak mengapa.”

“Kau menangis hebat barusan.”

Mukanya memerah.

“Ah. Maaf. Aku tidak sadar.”

“Tidak mengapa, aku bisa mengerti. Aku Christian. Turut berduka cita untukmu.”

Prajurit itu melepaskan topinya untuk melambangkan rasa hormat. Annisa hanya mengangguk.

“Dan kurasa pasti ada banyak juga penerima surat ini yang akan menangis sepertimu.”

“Surat?”

“Iya, dari para prajurit itu untuk keluarga mereka di rumah. Aku tidak bisa membayangkan perasaan keluarga sang prajurit yang meninggal itu, salah satu teman di kelompokku...”

Annisa bergidik.

“LeRoy..?”

“Iya. Kau kenal dia?”

“Aku pernah mewawancarainya.”

“Ohh... Iya, kasihan sekali dia, pasti keluarganya akan sangat terpukul. Dia baru menikah belum lama ini.”

“Ah. Perang memang sangat kejam.”

Tiba-tiba hati Annisa membeku. Seakan tertancap terlalu banyak sakit. Seakan tidak bisa merasakan apa-apa.

“Aku tidak bisa melihat satu pun keuntungan yang bisa didapat dari perang.”

“Demikian juga denganku.”

Annisa terdiam, mematung ke arah tumpukan surat di hadapannya. Di antara tumpukan itu, ada timbunan emosi yang begitu besar. Emosi yang tidak pernah diucapkan, yang tidak pernah diketahui. Semua amplop tertutup rapat.

Kecuali satu.

Di situ tertulis.

19 November 2006.

Dan dari balik kertas yang belum masuk sepenuhnya, kita bisa melihat bahwa.

Salam sayang yang terhangat untuk istriku Claire.

Hanyalah kalimat pembuka surat seorang prajurit untuk istrinya.

Saturday, November 14, 2009

Waktu, waktu, waktu

“Biarkan saja dia, di penghujung waktu, cinta, yang membuatnya rindu.”

Gemuruh tepuk tangan terdengar. Lalu. Sunyi.

Sshhh.

Pintu kamar ganti ditutup.

William terduduk.

“Bagus sekali penampilanmu tadi.”

Seseorang sudah berdiri di balik pintu.

“Tidak sebaik kemarin.”

William menengok dari kaca di hadapannya. Silau.

“Kau mengerti maksudku?”

“Hah?”

“Penampilanmu. Di tengah patah hati yang begitu hebat. Kau tetap tampak seakan percaya pada cinta.”

William membalikkan badan.

“Aku memang tetap percaya pada cinta.”

“Setelah ditinggalkan untuk laki-laki lain?”

“Iya.”

“Setelah cintamu berakhir berkali-kali?”

“Iya.”

“Setelah tahu bahwa kepalamu terlalu keras untuk bisa ditembus rasio apapun? Setelah tahu perasaanmu akan membunuh dirimu sendiri?”

“Iya. Aku hanya perlu melahirkan aku yang baru.”

Seseorang itu mulai bernyanyi. William berdiri.

Mendekat.

“Setelah cintaku mati. Paling tidak. Aku bisa berpaling kepadamu.”

Seseorang itu tertawa.

“Waktu, William.”

“Ya. Waktu.”

.

“Bangun.”

William menggosok mukanya. Kasar.

“Di mana aku?”

“Kau terlalu bersemangat kemarin. Kau membakar dirimu sendiri.”

“Hatiku terbakar?”

“Iya.”

“Kau memang adiktif. Seperti heroin.”

“Kau menjijikan.”

William berdiri. Telanjang.

“Kau berbeda.”

“Kau sama.”

“Kau orang yang pertama yang benar-benar kucinta.”

“Kau orang yang pertama yang lainnya.”

William mendengus.

“Aku memberi kamu segalanya.”

“Apa? Permintaan dan ikatan?”

“Cinta.”

“Cinta? Kau tidak mengerti satu apa tentang cinta.”

William mengenakan pakaian. Mengikat sepatu.

“Peluk aku.”

“Tidak lebih?”

“Cium aku.”

“Tidak lebih?”

“Satu aku.”

“Aku bukan kamu, William.”

“Apa?”

“Aku tidak mencintai dirimu seperti kau mencintai diriku.”

.

William berjalan masuk ke dalam auditorium sendirian. Kemarin, tempat ini penuh orang. Hari ini, kosong melompong. Dia bebas berteriak. Tapi melakukannya dia tidak.

Dia berdiri di tengah.

“Oh kenangan,

oh emosi.

Mempermainkan hati.

Aku sudah jatuh terlalu banyak kali.

Apa aku sudah lebih mengenal diri?

Tidak. Tampaknya tidak.

Semakin jauh,

semakin dalam,

semakin nikmat ilusi.

Apa itu cinta di akhir hari?”

Dengan langkah pasti. William mengambil satu botol bensin dan menumpahkannya ke atas kepala. Seperti mandi.

“Terbakarlah!”

Tapi tidak terjadi.

Tidak ada korek api. Tidak ada yang berteriak menyemangati. Tidak ada alasan untuk bangun pagi. Tidak ada lagi. Tidak ada hati.

Sunyi.

Di akhir cinta, setelah semua berakhir, jatuhlah sepi. Menunggu lahirnya lagi,

waktu kembali sunyi.

Waktu kembali sunyi.

Friday, November 13, 2009

Pembungkus Kado

Tokonya adalah yang paling ramai di satu kota ini. Begitu masuk ke dalamnya, aura kebahagiaan bisa langsung terasa. Hanya tiga kali tiga meter di pojok salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, seluruh kujur dinding terbungkus dengan berbagai warna dan warni. Mulai dari kertas biasa, kilap, tebal, bertekstur, kain, pita transparan, warna blok, besar, kecil, semua terpampang berdampingan, menjuntai turun ke bawah. Lampu hangat kekuningan membuat semua warna berpendar, ungu yang kaya, kuning yang terang, abu lembut, merah kuat, dan biru langit yang muda.

Pemiliknya bernama Elbert. Dan dia adalah seorang pembungkus kado.

“Sudah jadi, punya saya?”

Seorang Ibu setengah baya masuk ke dalam. Bunyi kerincingan terdengar, pintu kayu berderit, dan wangi parfum dengan basis oak tercium di udara.

“Belum Bu. Saya belum menemukan ‘hati’ dari kado ini,” Elbert berucap perlahan dari balik kacamatanya yang bundar melengkung, sembari melipat kertas kado warna keemasan untuk ditempel di atas warna marun tua yang pekat.

“Tapi dua hari lagi... Ulang tahun dia sudah tiba.”

Elbert berhenti sejenak, menahan gerakannya yang lancar.

“Sebuah bungkusan tidak bisa dibuat begitu saja,” dia membenarkan letak kacamatanya. “Apalagi untuk seorang laki-laki muda yang seorang simpanan. Tidak setiap hari saya mendapatkan kado dengan tujuan seperti itu, Ibu.”

“Ah. Baiklah. Paling lambat, besok. Jangan kecewakan aku. Baiklah.”

Bunyi kerincingan terdengar lagi. Elbert menghela nafas.
Dengan segera pandangannya mengarah ke sudut rak kecil yang ada di ujung kanan ruangan, tertempel kira-kira tiga meter dari atas tanah. Di dalamnya, ada sebuah bungkusan kado berwarna coklat tua, dihiasi daun dan bunga kering berwarna senada yang ditata sangat indah.

Elbert terduduk ketika melihat bungkusan kado itu. Seperti melihat sesuatu yang membawa arus memori lama, begitu berat, begitu berarti. Begitu sulit dilupakan.

“Dia tidak pernah kembali.”

Hujan turun begitu deras. Toko di ujung jalan memendarkan sedikit hangat di satu gang yang dingin. Lampunya menyala terang.

Di dalamnya ada seorang anak. Matanya bundar, hitam terang, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya berdiri sedikit-sedikit, seperti baru di lap setelah mandi.

Dia Elbert kecil.

Dan dia sedang membantu Ibunya menjaga toko ini. Elbert tidak suka dipaksa menjaga toko ini. Dia sebal karena seharusnya dia bisa bermain dengan permainan favoritnya. Ibunya sedang pergi ke pasar. Dan Ibunya belum juga kembali.

Bunyi kerincingan terdengar.

“Permisi.”

Elbert kecil memanjat dua buah bangku yang sudah disusun Ibunya supaya bisa melihat (atau lebih tepatnya menengok, mungkin) dari balik konter di mana dia berada sekarang.

Seorang gadis kecil.

“Err. Aku mencari Ibuku.”

Atau lebih tepatnya, gadis yang sangat kecil. Lebih kecil dari Elbert, bahkan.

“Aku juga menunggu Ibuku.”

Elbert tampak kebingungan. Gadis itu basah.

“Aku mencari Ibuku. Ibuku hilang!”

Dan gadis itu mulai menangis

Akibatnya?

Elbert mulai panik.


Toko di mana dia bekerja sekarang sudah berbeda. Sekarang, karena popularitasnya, dia berhasil mengembangkan bisnisnya dan membuka gerai baru.

Tidak ada satu apapun yang dia bawa dari tempat lama, kecuali satu bungkusan kado itu.

“Tenang yaa. Ini coklat panas buat kamu.”

Elbert dengan cekatan membuka termos yang ditinggalkan Ibunya, lalu menuangkannya ke satu gelas plastik bergambar tokoh kartun.

“Namamu siapa?”

Gadis itu menjawab, suaranya terlalu lembut untuk bisa terdengar. Lalu dia balik bertanya, “Kamu?”

“Elbert.”


Bungkusan kado itu tidak pernah dibuka. Dibiarkan begitu saja. Di dalamnya, menurut Elbert, ada satu hadiah terindah yang bisa diberikan untuk seseorang. Hadiah yang hanya ada satu di dunia ini.

Semenjak hari itu, gadis itu sering datang ke toko Elbert. Kebanyakan waktu, dia akan menemukan Ibu Elbert, yang menyapa dengan penuh senyum dan ramah, melihat kepolosan kedua anak kecil yang saling menyukai satu sama lain. Di lain waktu, dia akan menemukan Elbert, yang sekarang dengan gembira dan ceria menawarkan diri untuk menggantikan Ibunya menjaga toko.

Di suatu hari, di saat mereka sudah remaja, gadis itu berkata.

“Suatu hari kamu harus bungkusin satu kado ya buat aku.”

Elbert tersenyum.

“Pasti.”

“Kenapa sih ga pernah buatin buat aku? Padahal kita selalu main bareng dari kecil.”

Senyum Elbert berubah jadi tawa.

“Karena, untuk membungkus suatu kado, kita harus menemukan ‘hati’nya dulu.”

“Kita kan ketemu tiap hari.”

“Dan mungkin karena itu lah jadi lebih susah.”

Hari terus berlalu, hari, hari, dan hari. Mereka menjadi semakin dekat. Ketika kimia tubuh berubah, cinta mulai berbicara. Tumbuh kesukaan di hati Elbert terhadap gadis itu. Atau mungkin tepatnya, berkembang. Kalau tumbuh, tampaknya sudah sedari dulu.

“Elbert!”

Gadis itu masuk ke toko dengan ceria, langkahnya cepat, melompat. Staccato.

“Ada apa, ada apa?”

“Aku keterima belajar di Singapur!”

Elbert terdiam sejenak. Sangat sejenak.

“Wah, iya? Selamat dong!”

“Iya aku seneng banget!”

Saat itu, hati Elbert bergejolak keras.

“Kita harus ngerayain, ya! Besok aku ke sini lagi!”

Gadis itu memeluk Elbert erat. Hati Elbert bergejolak... semakin keras.

“Oke. Ditunggu ya.”

“Sampai besok!”


Dia tidak pernah datang.

Malam itu Elbert membongkar isi satu toko. Ibunya berteriak marah, tapi jelas betul, sembari tersenyum. Dia tahu anaknya tengah jatuh cinta.

Elbert bergerak dari tempat dia terduduk sekarang, dan mengambil kado itu.

“Kamu tahu kenapa begitu sulit untuk membuat kado untukmu?”

“Kita kan ketemu tiap hari.”

“Tiap hari aku melihat wajah kamu, tiap hari perasaanku bertambah untuk kamu.”

“Karena, untuk membungkus suatu kado, kita harus menemukan ‘hati’nya dulu.”

“Aku tidak pernah bisa... Aku tidak pernah bisa menemukan ‘hati’ untuk membungkus kadomu. Hati itu... Hatiku.”

Elbert menunduk.

“Sudah lama dimiliki olehmu...”

Dia mulai menangis.

“Kalau dia melihat ini, pasti dia akan terkejut,”

Elbert berpikir.

“Bungkusan kado ini kosong, karena hadiah terbaik untuk kamu... adalah aku!”

Dia terdiam sesaat lalu tertawa sendiri.

“Oke. Mungkin bukan ide yang baik.”

Tapi patut dicoba, pikirnya lagi, kali ini berbisik perlahan ke hatinya sendiri.


“Kenapa kamu harus pergi...”

Elbert menunduk.

Dia mulai menangis.

Ibunya memeluk dia.

Gadis itu meninggal dalam kecelakaan mobil.

Setelah keluar dari toko. Dia berlari.

Dan berhenti.


Elbert berhenti menangis. Menenangkan diri. Dia menghapus tetes air mata di atas bungkusan kado itu. Robek.

“Aduh.”

Dan dia melihat ada sebuah kertas di dalam bungkusan kado itu.

Robek. Robek.

“Apa ini?”

Sebuah kertas kecil. Bergambarkan hati.

Elbert terdiam.

“Dari... kamu...?”

Hatiku.

Untukmu.


Tidak ada satu gerakan. Tidak ada satu nafas, hanya ada rasa terkejut. Setelah bertahun-tahun, hari ini, si pembungkus kado, Elbert, menemukan satu kado yang telah lama dia cari.

Elbert menangis. Bahagia.

Kembali dia dapatkan, adalah sebuah hati. Yang sudah terlalu lama mati.

Kini hidup kembali.

Hatiku.

Untukmu.

Thursday, September 10, 2009

Makan Siang

Sekali-sekali gapapalah ngebebasin diri dari semua yang ngeganggu. Kayak misalnya minum Coca-Cola sebotol sampe abis ato makan kue satu loyang sendirian.
“Selamat siang, selamat datang di Kentucky Fried Chicken. Mau pesan apa Kakak?"
“Halo, ayam goreng paket A nya satu ya.”
“Baiklah, satu paket A...”
Tiap hari gue suka makan di sini. Temen-temen gue pada ga mau makan di sini. Mereka bilang kemahalan. Jadinya tiap kali makan siang, gue selalu makan sendiri.
Si pelayan senyum-senyum. Kayaknya dia inget gue tiap hari ke sini, terus selalu mesen makanan yang sama. Bukan karena itu yang paling gue suka, tapi gue mesen soalnya itu yang paling murah. Padahal ga enak-enak amat.
Kadang gue heran juga sih. Gue memang suka ke sini karena suka ngeliat dia doang. Tapi gue ga pernah berani ngajak kenalan. Gue ga bisa tau namanya lagi, dia ga pernah pake name tag. Yang gue ngomong ke dia cuman paket A, minta kembalian, terus bilang “thank you ya”. Udah, itu aja. Kasian ya gue.
Padahal, gue suka bener sama dia.

“Paket A nya. Silahkan. Ambil saus dan sedotan di sebelah kiri ya Kakak. Terima kasih.”
Mendadak gue jadi agak bingung. Dia padahal udah sering banget liat gue dateng ke sini, dan jelas-jelas selalu ngantri di kasir yang dijaga dia. Masa dia ga inget bahwa gue harusnya udah tau di mana ambil ini itu? Jangan-jangan tadi gue ke-ge-er-an pas dia senyum. Sial.
Nah itu dia meja tempat biasa gue duduk.Duh. Ga jadi deh. Ada tante-tante ngibrit jaga bangku.
Mmm. Dengan terpaksa gue duduk di bangku lain. Tapi gapapa. Untung aja dari sini gue masih bisa ngeliat dia. Iya, iya. Pilihan tempat duduk = supaya bisa ngeliat dia. Dia senyum pas ngasih kembalian kek. Dia keliatan cape dan ngelap keringet kek.
Terus gue mikir. Mungkin dia ngomong yang tadi itu karena dia udah kebiasaan. Bisa aja dia inget gue, ayo mikir yang positif. Cuma dia kebiasaan aja ngomong kayak gitu ke semua orang, jadi bahkan ke orang yang udah dia tau pun, dia tetep ngomong kayak gitu.
Mungkin. Aduh. Ga penting abis gue.

Eh, gue ga suka deh orang yang lagi ngantri sekarang. Brewokan, tinggi, item, gede. Pake topi item. Pake baju item. Aneh bener.
“Dor!”
“Anjrit!”
Gue merunduk. Bener aja kan tuh orang...
“Semua nunduk! Keluarin duit dari kasir!”
Aduh kaga ada satpam lagi di sini. Mana pernah ada kayak beginian. Gue ngeliat dia. Dia diem aja. Tapi bukan diem takut ato bingung. Aneh.
“Keluarin cepet! Lo mau gue tembak hah!”
Dia masih diem aja. Orang itu mulai panik sendiri. Dia ngayun-ngayunin pistolnya ga jelas. Serem abis. Tangannya gemeter. Jangan sampe... Aduh... Kasih aja cepetan!
“Jangan kayak adik gue. Dia dipenjara lama gara-gara hal bodoh kayak gini. Lo pasti ketangkep nanti.”
Dia ga begerak. Dia lanjut ngomong.
“Lo lapar? Gue kasih makanan gratis. Gue bayarin. Stop. Taroh pistolnya.”
“Heh lo! Lo, lo, ga usah sok jagoan deh lo ye! Ga usah sok jagoan! Gue minta duit! Sekarang!”
Tuh orang makin kalut... Aduh... Udah kasih aja napa sih!
“Eh! Gue tembak lo!”
“Jangan. Taroh pistolnya. Lo pasti ga mau kan, idup di penjara. Gue tau lo cuma lapar aja.”
Tiba-tiba kaki gue beranjak. Gue ga tau gue mikir apa. Tuh orang udah kalut abis.
“Cepet kasih gue! CEPET!”
Tangannya di pelatuk. Jangan... Gue lari lebih cepet. Badan gue nubruk konter kasir. Di antara tuh orang, pistol, dan dia.
“Dor!”
“Anjrit!”
“Hei!”
Satu restoran teriak. Semua lari. Tuh orang ketakutan terus lari.
Dia ngelompatin konter. Gue ngerasa kayak ngeliat dia ngelompat. Gue ga yakin.
“Ambulans! Tolong panggil ambulans!”
Terus gue mulai batuk. Tangan gue nutup mulut gue dan semua belepotan merah.
“Tunggu! Tahan!”
Gue batuk lagi. Makin parah. Gue bisa ngerasa darah gue ngalir keluar. Kaga bisa gue berentiin.
“Kenapa lo...”
“Bahkan gue belum makan paket A nya hari ini...”
Mulut gue bergerak. Kayaknya gue senyum.
“Gue inget lo tiap hari ke sini...”
Dia... mempesona. Mata gue mulai kabur.
“Siapa nama lo... Gue...”
Terus gue mulai batuk lagi.
Dia ngomong namanya siapa. Dia mulai nangis.
Gue ga bisa denger lagi. Terlalu jauh.

Makan siang.

Gue cuma mau makan siang.

Monday, September 7, 2009

those moments are so beautiful i feel like crying

i was browsing through old pictures from 2006
oh
i miss those moments

i miss my friends and coaches
i miss the debates
i miss the mcdonalds near the student dorm (which was so comfortable i wish to stay there longer)
i miss tesco and the microwave foods
i miss wales
i miss the kind hearted LOs at one of the schools
i miss the super extra big kebab at breacon beacon
i miss london
i miss a lot

i miss myself
huff.

Saturday, July 11, 2009

Lima Pagi

Cahaya benderang.

Lampu demi lampu terlewati, semua berderet memberikan sekejap sinaran. Aku melalui semua dan mendadak merasa penuh inspirasi. Kepenuhan yang sulit dijelaskan alasannya.

Aku membayangkan kembali. Ke rutinitas sehari-hari. Ke bos cerewet yang hanya tahu meminta dihargai. Ke tugas yang tidak pernah berhenti. Ke hidup. Ke diri sendiri.

Untuk sejenak, menarik untuk menengok dunia yang penuh dengan sinar lampu, sorot kanan dan kiri. Menyaksikan upaya orang untuk tetap muda, melawan arus waktu dengan gaya dan penuh cita rasa. Bagaimana semua di sana mempertunjukkan keinginan untuk menjadi sesuatu yang ada: malam ini, bagiku, di sejarahku, aku tercatat untuk selamanya. Meski hanya mengeluarkan satu hentakan atau beberapa goyangan. Saat ini adalah milikku.

Aku kembali ke dalam taksi. Terduduk sendiri. Jalan tampak sangat lengang. Lampu demi lampu terus terlewati.

Benakku berpikir, bakal jadi apa aku kemudian. Lima, sepuluh, lima belas, dua puluh, dua puluh lima, aku tidak tahu berapa panjang yang diberikan Sang Maha Segala kepadaku. Akan mimpi apa yang kukejar, status apa yang kudapat, dan pencapaian apa yang kurasa?

Kalau hidup hanya untuk saat ini, aku yakin benar saat ini aku hidup. Untuk kemarin aku tidak pasti, apalagi untuk yang esok dan besok.

Taksiku berhenti. Dan aku turun. Berpikir.

Semua orang mencari kebahagiaannya sendiri. Entah hanya sejauh harga ongkos taksi atau menyerahkan seluruh diri. Cerita ini, lagi-lagi, di pukul lima pagi.

Untuk nanti kita berjumpa lagi, kali ini.

Aku permisi.

Sunday, June 28, 2009

Gombal!

“Sekarang aku tahu.”

“Tahu apa?”

Dia tersenyum sembari menyeruput kopi yang kubeli di kedai ini, segelas untuk berdua.

“Cerita itu. Bidadari yang jatuh ke bumi dan mandi. Rupanya mereka mengenakan pakaian berwarna merah muda.”

Dia tersenyum semakin lebar, semakin sempurna, lalu menaruh gelas itu sembari tersipu. Sembari bergerak turun tangannya melalui kaus simpel yang dikenakannya, tepat warnanya seperti yang kukatakan dalam kata: merah muda.

“Tidak pernah aku dalam satu pun mimpiku membayangkan akan menemui bidadari seperti engkau, sayang.”

“Gombal. Dari mana kau belajar berkata seperti itu, Pangeran?”

Ah. Ganti aku tersenyum. Kalau soal beradu kata, dia memang satu jagonya. Urusan merayu biar aku membelikannya sesuatu, dia bisa dibilang nomor satu. Bahkan Ibuku sendiri agak sulit mencairkanku. Duh. Agak durhaka memang. Maaf, Ibu.

“Jangan bengong!”

Aku tersadar dari lamunan.

“Apa yang sedang kau pikirkan? Berjuta wanita lain yang ada di sana?”

“Tentu tidak mampu mereka memasuki pikiranku. Wanita mana lagi, yang meminum kopi, mendapatkan busa, dan tetap terlihat begitu sempurna?”

Dia tersenyum malu lalu perlahan menghapus bekas busa di mulutnya. Aku tertawa.

“Entah berapa lama kau bisa melakukannya, sayang.”

“Apa? Menatap kecantikanku?”

Dia tertawa.

“Bukan, bukan. Membuatku begitu terpana akan dirimu. Begitu umur menjadi senja, bukankah semua laki-laki berubah menjadi labu besar yang malas bergerak? Seperti di cerita dongeng, sihir habis, hilanglah semua itu, kenangan manis.”

Aku tertawa.

“Tidak usah khawatir, ada satu orang Putri yang selalu bisa menciumku jika aku jatuh tertidur, dan aku akan bangun lagi, siap untuk mengendarai kuda kehidupan bersamanya.”

“Kamu berbicara seperti semua itu mudah.”

“Memang semua itu mudah.”

“Kehidupan berdua dalam pernikahan itu selamanya, kau tahu?”

“Seperti sekejap mata.”

“Kita belum punya apa-apa.”

“Aku punya kamu.”

Dia terdiam sejenak. Musik bermain di latar belakang. Jazz.

“Aku serius, sayang. Ini langkah besar. Gombalmu...”

“Aku tidak gombal.”

“Aku...”

“Aku serius. Aku tidak gombal.”

“Bukan...”

“Siapa juga yang menciptakan kata gombal? Seseorang yang tidak pernah merasakan cinta, kurasa. Ketika jatuh cinta, seperti sekarang aku jatuh cinta padamu, aku butuh kata yang melebihi makna kata. Mengapa harus terbatas seperti orang kehabisan rasa?”

“Dan aku, sayang, tidak punya sedikit pun keraguan untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Menjadi nenek bersama si kakek yang merupakan dirimu. Tapi, semua di dunia ini tidak bisa diselesaikan begitu saja dengan cinta!”

“Jadi kau ragu akan cintaku?”

“Aku ragu akan kemampuan kita menghadapi semua tantangan itu.”

Bibirku membuka, lalu menutup kembali.

“Kau tidak mau menerima lamaranku?”

Dia menggeleng.

“Tidak untuk saat ini.”

“Baiklah.”

Aku berucap pahit, lalu menunduk. Dia beranjak dari tempat duduknya, pun tidak mengucapkan satu kata selamat tinggal.

Tunggu. Dia ketinggalan sesuatu.

“Hey!”

Ketika aku menengok, dia sudah lenyap. Aku penasaran sendiri membuka kotak kecil beludru itu. Sebuah cincin.

Dan sebuah kertas. Tertulis: “Aku melamarmu lagi, sayang. Waktu awal pacaran, sudah kukatakan bahwa nanti aku yang akan melamarmu, dan aku ingin membuktikannya. Dalam hidup, kepalaku sekeras ini, dan aku semenyebalkan ini. Masih kah kau mau menikah denganku?”

Dasar.

Aku berlari mengejarnya keluar. Kepalamu yang keras itu, sayang? Sifatmu yang suka berubah tiba-tiba dan menyebalkan itu, sayang? Hal yang membuatku jatuh cinta padamu, sayang? Semua ada pada dirimu, kurangnya dan lebihnya, tertempel, tidak bisa dipisah seperti makan soto di pinggir jalan.

Jadi. Kupikir.

Aku akan mengatakan iya. Karena cintaku padamu sebesar planet, dan pembuktian kataku ini tidak akan pernah berakhir. Aku, mencintaimu. Sangat, amat, mencintaimu.