“Sekarang aku tahu.”
“Tahu apa?”
Dia tersenyum sembari menyeruput kopi yang kubeli di kedai ini, segelas untuk berdua.
“Cerita itu. Bidadari yang jatuh ke bumi dan mandi. Rupanya mereka mengenakan pakaian berwarna merah muda.”
Dia tersenyum semakin lebar, semakin sempurna, lalu menaruh gelas itu sembari tersipu. Sembari bergerak turun tangannya melalui kaus simpel yang dikenakannya, tepat warnanya seperti yang kukatakan dalam kata: merah muda.
“Tidak pernah aku dalam satu pun mimpiku membayangkan akan menemui bidadari seperti engkau, sayang.”
“Gombal. Dari mana kau belajar berkata seperti itu, Pangeran?”
Ah. Ganti aku tersenyum. Kalau soal beradu kata, dia memang satu jagonya. Urusan merayu biar aku membelikannya sesuatu, dia bisa dibilang nomor satu. Bahkan Ibuku sendiri agak sulit mencairkanku. Duh. Agak durhaka memang. Maaf, Ibu.
“Jangan bengong!”
Aku tersadar dari lamunan.
“Apa yang sedang kau pikirkan? Berjuta wanita lain yang ada di sana?”
“Tentu tidak mampu mereka memasuki pikiranku. Wanita mana lagi, yang meminum kopi, mendapatkan busa, dan tetap terlihat begitu sempurna?”
Dia tersenyum malu lalu perlahan menghapus bekas busa di mulutnya. Aku tertawa.
“Entah berapa lama kau bisa melakukannya, sayang.”
“Apa? Menatap kecantikanku?”
Dia tertawa.
“Bukan, bukan. Membuatku begitu terpana akan dirimu. Begitu umur menjadi senja, bukankah semua laki-laki berubah menjadi labu besar yang malas bergerak? Seperti di cerita dongeng, sihir habis, hilanglah semua itu, kenangan manis.”
Aku tertawa.
“Tidak usah khawatir, ada satu orang Putri yang selalu bisa menciumku jika aku jatuh tertidur, dan aku akan bangun lagi, siap untuk mengendarai kuda kehidupan bersamanya.”
“Kamu berbicara seperti semua itu mudah.”
“Memang semua itu mudah.”
“Kehidupan berdua dalam pernikahan itu selamanya, kau tahu?”
“Seperti sekejap mata.”
“Kita belum punya apa-apa.”
“Aku punya kamu.”
Dia terdiam sejenak. Musik bermain di latar belakang. Jazz.
“Aku serius, sayang. Ini langkah besar. Gombalmu...”
“Aku tidak gombal.”
“Aku...”
“Aku serius. Aku tidak gombal.”
“Bukan...”
“Siapa juga yang menciptakan kata gombal? Seseorang yang tidak pernah merasakan cinta, kurasa. Ketika jatuh cinta, seperti sekarang aku jatuh cinta padamu, aku butuh kata yang melebihi makna kata. Mengapa harus terbatas seperti orang kehabisan rasa?”
“Dan aku, sayang, tidak punya sedikit pun keraguan untuk menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Menjadi nenek bersama si kakek yang merupakan dirimu. Tapi, semua di dunia ini tidak bisa diselesaikan begitu saja dengan cinta!”
“Jadi kau ragu akan cintaku?”
“Aku ragu akan kemampuan kita menghadapi semua tantangan itu.”
Bibirku membuka, lalu menutup kembali.
“Kau tidak mau menerima lamaranku?”
Dia menggeleng.
“Tidak untuk saat ini.”
“Baiklah.”
Aku berucap pahit, lalu menunduk. Dia beranjak dari tempat duduknya, pun tidak mengucapkan satu kata selamat tinggal.
Tunggu. Dia ketinggalan sesuatu.
“Hey!”
Ketika aku menengok, dia sudah lenyap. Aku penasaran sendiri membuka kotak kecil beludru itu. Sebuah cincin.
Dan sebuah kertas. Tertulis: “Aku melamarmu lagi, sayang. Waktu awal pacaran, sudah kukatakan bahwa nanti aku yang akan melamarmu, dan aku ingin membuktikannya. Dalam hidup, kepalaku sekeras ini, dan aku semenyebalkan ini. Masih kah kau mau menikah denganku?”
Dasar.
Aku berlari mengejarnya keluar. Kepalamu yang keras itu, sayang? Sifatmu yang suka berubah tiba-tiba dan menyebalkan itu, sayang? Hal yang membuatku jatuh cinta padamu, sayang? Semua ada pada dirimu, kurangnya dan lebihnya, tertempel, tidak bisa dipisah seperti makan soto di pinggir jalan.
Jadi. Kupikir.
Aku akan mengatakan iya. Karena cintaku padamu sebesar planet, dan pembuktian kataku ini tidak akan pernah berakhir. Aku, mencintaimu. Sangat, amat, mencintaimu.